Cerita Seks Bergambar – Sepongan Maut Mbak Putri Amelia

Cerita Seks Bergambar – Sepongan Maut Mbak Putri Amelia  – Hari itu adalah hari yg tidak terlupakan bagiku. Aku kuliah seperti biasa, namun mengingat ada UAS, maka aku berangkat lebih awal dan mencari tempat duduk. Karena mungkin masih terlalu pagi, maka kelas tampak sepi. Sambil membunuh sepi, aku mencoba membaca-baca buku. 

Beberapa menit kemudian, aku melihat seorang cewek bahenol masuk kelas, dan mencoba tengak-tengok mencari nomor kursinya. Dia akhirnya duduk di depanku, aku bingung siapa cewek ini, padahal dia bukan teman seangkatanku. Karena ujian masih satu jam lagi, maka aku mencoba mengalihkan perhatianku dari buku ke tubuhnya yang benar-benar sintal bak penyanyi dangdut.

Aku mencoba mencuri pandang dari balik punggungnya, dan ternyata … Dia sedang menonton bokep dengan suara di-off-kan. Aku jadi pengen lihat video yang lumanan HD, tidak seperti 3gp yang gambarnya kabur nggak karuan. Intipanku pun ketahuan di dia. Dia bukannya mematikan bokepnya, malah melirik ke arahku …

“Mau ikutan nonton dik …?” Tanyanya padaku. Aku pun sedikit kaget, tapi karena aku memang pengen lihat, maka aku menganggukkan kepala dan si cewek sintal itupun mengajakku duduk di kursi samping kanannya.
Dia mencoba ‘berbagi’ Ipad-nya untuk aku nikmati berdua. Adegan hotnya membuat birahiku terangsang dan kontolku tambah tegang meskipun tanpa suara.
“Itu bokep Indonesia mbak ?” Aku bertanya.
“Iya.”

Aku terdiam sejenak dengan memperhatikan video itu.
“Oiya, mbak siapa? Kok sepertinya bukan angkatan 2008.”
“Iya dik, aku angkatan 2006, namaku Putri Amelia.” balasnya sambil melihatku dan aku pun bersalaman dengannnya sebagai perkenalan. Ternyata tangannya benar-benar mulus dan aku ingin sekali tangannya bisa mengocok kontolku yang sudah berdiri ini.

“Mbak suka nonton bokep?”
“Suka banget dik. Kenapa? Kamu juga suka?”
“Suka juga mbak. Pantesan aja mbak gedhe,” kataku sekenanya.
“Apanya yg gedhe …?” Dia bertanya seperti orang blo’on.
“Anu … Itumu mbak.”
“Itu apa …?” Dia bertanya kembali. Pura-pura nggak tahu apa oon nih cewek.
“Ya … susumu mbak,” kataku pelan-pelan sambil membisik di telinga kanannya.
“Ahhh … kamu bisa aja,” balasnya sambil mencoba menyentuh kontolku yang masih terbungkus celana panjang. Aku jadi tambah on. Jangan-jangan dia lonte lagi nyasar kemari.

Kemudian, dengan keberanian, aku memeluk tubuhnya yang wow … gitu, dan membisikkan sesuatu kembali di telinganya.


“Mbak Putri, kontolku ngaceng nih.”
Akhirnya dengan kata-kata yang disensor, dia mencoba membuka resleting celana panjangku, dan melepas celana panjangku itu. Aku jadi telanjang bawahan nih. Mbak Putri mematikan dahulu bokepnya dan beralih untuk mencoba mengocok-kocok kontolku yang sudah berdiri sekitar 16 cm.

“Jan*** kontolmu gedhe banget dik,” katanya sambil tertegun melihat jalantol segedhe pemukul kasti, hahaha …
“Aku hisep ya dik. Mbak juga nggak tahan nih pengen ngrasain jalantol kamu.”
“Iya mbak, cepetan mumpung sepi,” kataku memburu.

Dengan cepat seperti vacuum cleaner, mulutnya sudah nempel di kepala kontolku. Lidahnya mencoba bergoyang memukul-mukul batang kontolku. Jan*** hisepanne cewek iki, sampai pangkal diembat juga batinku. Mbak Putri seakan tidak risih bergumul dengan jembutku yang mengelilingi mulutnya. Aku pun tidak tinggal diam, sambil mulutnya sibuk mengurusi jalantol, tanganku mencoba menggerayangi susunya yang gedhe itu. Astaga, empuk banget, apa dia nggak pakai Bra.

“Mbak Putri nggak pakai Bra ta …?” Tanyaku. Dia hanya membalas dengan gelengan saja mengingat mulutnya tak bisa bicara. A** cewek semok iki tambah nggak gawe Bra sisan, batinku dengan bahasa Suroboyoan. Aku jadi semakin pengen melepas bajunya.

Tanganku mencoba memegang bajunya dan kutarik ke atas untuk melepasnya, dan Mbak Putri pun rehat sejenak karena bajunya harus melewati kepala dan mulutnya. Setelah bajunya ditanganku, aku buang baju Mbak Putri itu ke lantai, dan langsung kupegang kepalanya untuk segera menghisap kontolku lagi mumpung sedang ada kesempatan untukku seperti ini.

“Ahh … ahh …” desahku kenikmatan tanpa sadar sudah bermain lima menit. Aku ebrharap semoga tidak ada teman-teman yang datang sehingga ritual ini berjalan lancar. Aku sudah berjanji sepuluh menit saja dengannya, takut ketahuan.

Lima menit terakhir aku gilirna menghisap puting susunya yang sudah ngaceng juga. Dia kurebahkan di lantai kelas yang dingin, dan mulutku langsung menjepit puting susu kanannya.


“Ahh … Ooohhhh … Aaaauuuhhh …” desah Mbak Putri yang membuatku semakin liar. Kontolku yang sudah tegang karena hisapan mautnya tadi, aku letakka diatas kemaluannya dan kugesek-gesekkan karena Mbak Putri nggak berani kontolku masuk ke dalam memeknya.

“OOOhhhhh diiikkk …” desahnya kembali smabil menggigit bibirnya karena kenikmatan.

“Aaachhhhhhh …” Mbak Putri akhirnya menjerit begitu puting susunya aku gigit dan akhirnya aku lumasi puting susu cokelat itu dengan air liurku lantas segera aku emut-emut kembali. Mbak Putri sangat menikmati permainan mulutku itu, begitu juga aku.
Akhirnya, menjelang time up, aku melepas hisapanku.
“Mbak, peju ku dah hampir keluar nih.”
Mbak Putri bergegas bangkit dari lantai, dan menhisap kembali kontolku. A**, peju ape metu yo diembat sisan.
Mbak Putri melakukan servis oral terakhir dengan kencang dan keras, seakan tidak sabar ingin dibanjiri cairanku. Dan akhirnya …
Creeettt … Creeettt …
Pejuku keluar dan nyembur di dalam mulutnya. Kemudian, Mbak Putri melepas hisapannya dan sekali lagi …
Creeettt … Creeettt …
Pejuku nyemprot di wajahnya yang putih bak chinese.

Ahhhh … Aku lega sekali. Mbak Putri masih meniimati peju dengan seakan ‘menguyah’ peju tersebut. Sesekali sisa-sisa peju di pipinya dia ambil dengan ajri dan dimasukkan ke dalam mulutnya bercampur dengan pejuku yang masih menggenang di atas lidahnya.

“Eehhhmmm … Enak banget dik peju kamu, meski agak asin sih,” katanya begitu selesai menelan habis pejuku.

Akhirnya, aku mencoba memakai celana dalam dan celana panjangku kembali, sementara Mbak Putri juga memakai baju yang tadi aku lempar karena aku sedang liar. Dia juga mengeluarkan tissue basah untuk menyapu sisa pejuku di wajahnya yang masih meleleh jatuh. Tak lama kemudian, aku bercumbu dengannya dan menikmati bibir tipisnya yang indah. Oh Putri, aku ingin menikmati seperti ini lagi.

Permainan aku dan seniorku itu berlangsung selama dua belas menit. Tapi untunglah masih belum ada yang masuk ke kelas …..

Related posts